Awal kemunculan False Nine |
Peran false nine mungkin baru populer ketika Fabregas di timnas
Spanyol atau Lionel Messi memainkannya di Barcelona. Tapi sebenarnya,
peran ini sudah ada sejak 1930an. Adalah Danubian School di Austria yang
pertama kali menggunakan false nine. Ketika itu, seperti yang ditulis Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: the history of football tactics, Danubian
School yang dilatih Hugo Meisl menggunakan pola dasar 2-3-5 dengan
penyerang tengah no.9 ditarik agak mundur dibanding empat penyerang lain
yaitu penyerang no.7, 8, 10 dan 11.
Tak hanya di Austria dan Eropa
Tengah lain, Wilson juga menuliskan bahwa River Plate pun saat itu
menggunakan pola yang sama. Walau begitu, ia menegaskan bahwa Mathias
Sindelaar dari Hungaria-lah yang sukses mempopulerkan peran false nine lewat permainannya yang meski penyerang, ia lebih sering berada di depan kotak penalti (drop deeper) dan menjadi pembagi bola serta pencipta ruang di lini pertahanan lawan.
Peran yang dimainkan Sindelaar tersebut dimainkan juga oleh penggawa
timnas Hungaria 1950an, Nandor Hidegkuti. Melawan Inggris di Wembley
pada 25 November 1953, ia menjadi momok pertahanan Inggris. Kemampuannya
memudahkan Ferenc Puskas (10) dan Sandor Kocsis (8) serta Zoltan Czibor
(11) dan Laszlo Budai (7) di kedua sayap. Walau begitu, peran false nine Hindegkuti
tersebut tak mengurangi ketajamannya, di mana ia berhasil mencetak
hattrick dalam kemenangan Hungaria dengan skor 6-3 tersebut.
Peran false nine mungkin baru populer ketika Fabregas di timnas Spanyol atau Lionel Messi memainkannya di Barcelona. Tapi sebenarnya, peran ini sudah ada sejak 1930an. Adalah Danubian School di Austria yang pertama kali menggunakan false nine. Ketika itu, seperti yang ditulis Jonathan Wilson dalam Inverting the Pyramid: the history of football tactics, Danubian School yang dilatih Hugo Meisl menggunakan pola dasar 2-3-5 dengan penyerang tengah no.9 ditarik agak mundur dibanding empat penyerang lain yaitu penyerang no.7, 8, 10 dan 11.
Tak hanya di Austria dan Eropa Tengah lain, Wilson juga menuliskan bahwa River Plate pun saat itu menggunakan pola yang sama. Walau begitu, ia menegaskan bahwa Mathias Sindelaar dari Hungaria-lah yang sukses mempopulerkan peran false nine lewat permainannya yang meski penyerang, ia lebih sering berada di depan kotak penalti (drop deeper) dan menjadi pembagi bola serta pencipta ruang di lini pertahanan lawan.
Peran yang dimainkan Sindelaar tersebut dimainkan juga oleh penggawa timnas Hungaria 1950an, Nandor Hidegkuti. Melawan Inggris di Wembley pada 25 November 1953, ia menjadi momok pertahanan Inggris. Kemampuannya memudahkan Ferenc Puskas (10) dan Sandor Kocsis (8) serta Zoltan Czibor (11) dan Laszlo Budai (7) di kedua sayap. Walau begitu, peran false nine Hindegkuti tersebut tak mengurangi ketajamannya, di mana ia berhasil mencetak hattrick dalam kemenangan Hungaria dengan skor 6-3 tersebut.
0 Komentar